Saya Terharu Melihat Kondisi Kantor Kita di Daerah
Selasa, 9 Februari 2010 | Oleh: ery (DSP) | 657 x dibaca
"Pengarahan Dirjen PBN pada Rapim Regional dan Sosialisasi PMK No. 192/PMK.05/2009 tentang Perencanaan Kas"
Mataram dan Surabaya, perbendaharaan.go.id - Pernyataan tersebut dikeluarkan Dirjen Perbendaharaan, Herry Purnomo
kala memberikan pengarahan pada acara Rapat Pimpinan (Rapim) Regional
dan Sosialisasi PMK No.192/PMK.05/2009 tentang Perencanaan Kas di
Mataram (5/2) dan Surabaya (7/2).
Pada acara yang dihadiri
Sekretaris DJPBN, K.A. Badaruddin, Direktur Pengelolaan Kas Negara
(PKN), Tata Suntara; Kepala Kanwil DJPBN Mataram, A.R. Ritonga; Kupang,
Pardiharto dan Denpasar, Ni Luh Putu Kumalawati tersebut, Dirjen PBN
melihat tampilan profil seluruh KPPN di Mataram, Nusa Tenggara Barat
yang menjelaskan usaha-usaha mereka dalam perbaikan pelayanan,
pelaksanaan SOP KPPN Percontohan, hingga kondisi bangunan kantor dan
foto seluruh pegawai.
"Terus terang saya terharu bahkan
speechless melihat profil kantor-kantor kita di daerah. Seperti halnya
di NTB dan NTT ini, sebenarnya semangat perubahan yang ditunjukkan pada
KPPN-KPPN yang ada sudah begitu tingginya. Tetapi sayang belum didukung
oleh sarana yang memadai," ujar beliau. "Saya akan mendiskusikan hal
ini dengan Sekretaris (Ditjen PBN, red) untuk membantu percepatan
perubahan pelayanan di daerah," tambah beliau.
Memang terlihat
dalam presentasi masing-masing kanwil pada saat Rapim Regional di
Mataram, bahwa tampilan bangunan kantor dan perabotannya terlihat masih
merupakan peninggalan pembukaan kantor pertama kali. Hal ini pun
berlaku dengan mobil dinas kepala kantor. Beberapa kantor yang disoroti
mengenai kondisi ini oleh Dirjen PBN adalah Atambua, Larantuka, Ende,
Waingapu dan Bima.
Tetapi ada hal lain yang tidak membedakan
kantor-kantor ini dengan kantor KPPN lain yang lebih baik kondisinya,
yaitu semangat untuk menunjukkan perubahan sesuai arahan Dirjen selama
ini. Slogan, pernyataan dan himbauan di beberapa sudut ruang front
office kantor terlihat semarak menunjukkan perubahan organisasi dan
bentuk perlawanan kita terhadap korupsi dan gratifikasi. Hal ini yang
membuat Herry Purnomo terharu dan sekaligus bangga.
Dalam
pengarahannya baik di Mataram dan Surabaya, ada beberapa poin penting
yang beliau sampaikan, yaitu mengenai hasil survey kepuasan Depkeu
2009, perwujudan layanan unggulan kanwil, percepatan realisasi
anggaran, pemanfaatan Informasi dan Teknologi (IT) oleh kepala kantor
dalam pelaksanaan tugas pengawasan (monitoring) terhadap fungsi
pelayanan, peningkatan inovasi berbasis IT untuk memudahkan pelayanan,
penggunaan single database dan proses rekonsiliasi data untuk laporan
Arus Kas (LAK) terkait dengan Modul Penerimaan Negara (MPN) dan
optimalisasi front office untuk memeriksa penggunaan akun.
"Saya
memberikan apresiasi atas kerja keras semua jajaran DJPBN yang telah
membuat kita tetap teratas dalam survey kepuasan pelanggan Depkeu tahun
2009," ujar Dirjen PBN. Kemudian beliau menambahkan, "Tapi diharapkan
kita tidak menunjukkan rasa puas terlebih dahulu karena ada beberapa
catatan penting yang harus diperbaiki, seperti kurangnya pengetahuan
yang merata dari para petugas front office dan kurang maksimalnya
penggunaan sarana pendukung pelayanan."
Dalam perwujudan layanan
unggulan kanwil, beliau juga meminta para Kepala Kanwil untuk dapat
mewujudkan permintaan Menteri Keuangan untuk dapat menerapkan pola
layanan unggulan pada 30 kanwil DJPBN tahun 2010 bukan hanya 11 seperti
yang direncanakan sebelumnya. Perubahan pola layanan ini diharapkan
tetap mengutamakan pada perubahan mindset tidak hanya pada perubahan
fisik saja.
Herry Purnomo, dalam poin percepatan realisasi
anggaran, menghimbau agar kanwil dan KPPN dapat berperan aktif untuk
meminta seluruh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) mempercepat realisasi
anggarannya. "Seharusnya kita dapat meminta satker untuk mulai
melakukan realisasi belanja barang/modal pada triwulan pertama 2010,"
tegas beliau. "Tidak hanya mereka (satker, red) yang harus memastikan
untuk tidak menumpuk pekerjaan fisik pada akhir tahun, tetapi kita
secara internal juga harus memberikan contoh untuk menunda-nunda
pengadaan barang dan melakukannya secara transparan."
Pada
kesempatan ini juga, Dirjen PBN mengkritik Kepala Kanwil dan KPPN yang
tidak memanfaatkan secara optimal alat monitoring dan validasi kas
posisi yang ada di intranet. "Sudah seharusnya para kepala kantor
mengoptimalkan alat pengawasan yang sudah tersedia, memeriksa validitas
data dan memperbaiki apabila data rusak atau belum valid," tegas beliau.
Terkait
dengan peningkatan inovasi pelayanan berbasis IT, Herry Purnomo meminta
agar para kepala kantor dapat meningkatkan inovasi di kantornya
masing-masing. Beliau mengambil beberapa contoh seperti rekonsiliasi
dan revisi melalui email, penggunaan SMS Center untuk memberikan
pelayanan pemeriksaan pagu untuk satker dan website untuk sharing
informasi mengenai percepatan perubahan pelayanan. "Tetapi semua itu
harus dijaga keajegannya, untuk website misalnya, harus ada pengelola
dan kontributor yang jelas serta pengawasan dari kepala kantor," tegas
beliau.
Acara Rapim Regional di Surabaya dihadiri oleh
Sekretaris DJPBN, Direktur Pengelolaan Kas Negara, Kepala Kanwil Ditjen
Perbendaharaan Jakarta, Serang, Bandung, Semarang, Yogyakarta,
Surabaya, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda dan Kepala
KPPN, Kepala Bidang Kanwil dan beberapa Kepala Seksi di masing-masing
kantor tersebut.
Oleh: Tonny - Bagian Pengembangan Pegawai

